SEPUTARMURIA.com, KUDUS – Pasar baru Besito, Desa Besito, Kecamatan Gebog, sebenarnya sudah selesai akhir 2016 lalu. Namun hingga saat ini, belum juga ditempati. Sejumlah pihak mengkritik proyek yang didanai APBD ini tidak difungsikan dengan baik.

Kritikan salah satunya dilayangkan oleh Komisi B DPRD Kabupaten Kudus.

Anggota Komisi B DPRD Kudus, Bambang Kusriyono mengaku, tidak habis pikir Pasar Besito yang menghabiskan miliaran rupiah, kondisinya mangkrak.

“Pedagang enggan untuk pindah dari lokasi lama, karena dianggap lokasi yang baru jauh dari jalan raya,” kata Bambang, Rabu (13/9/2017).

Selain itu, sejumlah fasilitas pendukung juga belum tersedia. Seperti sambungan listrik, sambungan air dan belum ada pagarnya.

“Saya pikir, ini ada yang tidak sesuai yaitu soal perencanaan,” ungkapnya.

“Tidak hanya kasus di Pasar Besito, tapi beberapa pasar yang direvitalisasi perencanaannya terkesan asal-asalan. Akibatnya mangkrak,” imbuh politisi Partai Amanah Nasional (PAN).

Bambang pun akan menolak rencana Pemkab Kudus (Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar) untuk menggelontorkan dana lagi sekitar Rp 2 miliar untuk Pasar Besito di anggaran perubahan.

“Saya yang pertama yang akan menolak itu. Tolong, ditempati dulu baru nanti silakan diberikan kucuran anggaran,” tambahnya.

Ia berharap, dalam aspek perencanaan Pemkab Kudus harus lebih jeli dan peka. Khususnya untuk memperhatikan aspek kemanfaatan.

“Buat apa bangun infrastruktur seperti pasar, jika nantinya tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Akhirnya mangkrak, jikalau perencanaan asal-asalan,” tandasnya.

Ketua Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi (GNPK) RI Cabang Kudus, Sudardi, meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD), harus melakukan perencanaan matang terhadap suatu pekerjaan fisik maupun non fisik.

“Sehingga setelah pekerjaan proyek selesai, akhirnya mangkrak tidak berfungsi,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya berharap kepada OPD lebih jeli dalam menyusun sebuah perencanaan.

“Perencanaan yang baik merupakan langkah awal untuk mencegah potensi korupsi.  Jangan seenaknya menghamburkan uang negara, untuk sesuatu yang tidak memiliki nilai manfaat,” pungkasnya.

Penulis: Ali Mahfudz