SEPUTARMURIA.com, PATI  Pemetaan batas wilayah di seluruh Indonesia mulai dilakukan oleh Pusat Pemetaan Batas Wiyaha Badan Informasi Geospasial. Hal itu untuk menghindari terjadinya konflik agraria yang belakangan ini marak terjadi di berbagai daerah.

Kepala Pusat Pemetaan Batas Wiyaha Badan Informasi Geospasial, Tri Patmasari mengatakan, sampai hari ini, pihaknya sudah melakukan penataan di 8.000 desa yang di dalamnya termasuk desa di Kabupaten Pati. Selain itu, penataan batas kecamatan juga akan ditata sebagaimana mestinya.

“Dengan penataan batas wilayah ini, nantinya program-program pembangunan yang dilakukan oleh desa maupun kecamatan akan lebih efisien. Selain itu juga bisa meminimalkan konflik agraria yang belakangan marak terjadi,” ujar Patmasari saat memberikan sambutan dalam acara Temu Kerja Delinasi Batas Wilayah Administrasi Desa/Kelurahan secara Kartometrik di Pendopo Kabupaten Pati, Rabu (06/09/2017).

Lebih lanjut, pemetaan itu juga sebagai penentu administrasi dan berfungsi untuk mengetahui batas ruang pembangunan maupun pengelolaan desa/kelurahan. Menurutnya, hal itu sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial.

“Dengan adanya administrasi batas desa maupun kelurahan juga dapat menunjukkan eksistensi desa tersebut,” tambahnya.

Dia juga meminta kepada seluruh Kepala Desa  (Kades) di Kabupaten Pati untuk mempersiapkan batas-batas wilayahnya masing-masing. Sehingga, program pembangunan infrastruktur yang berada di wilayah perbatasan dapat diketahui secara pasti.

“Kami berharap, para kades bisa bekerjasama dengan kami. Ini merupakan program dari pusat agar pendataan batas wilayah bisa maksimal dan tidak menimbulkan konflik,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto menyambut baik dengan adanya pendataan batas wilayah ini. Menurutnya, program penataan batas desa ini sangat bermanfaat, mengingat di Kabupaten Pati sendiri secara administratif baru ada batas kabutan saja. Sementara untuk batas desa masih belum ada.

“Kalau batas kota sudah kami lakukan pendataan pada tahun 2015 lalu, tapi kalau desa belum ada. Ini terlihat mudah, tetapi itu memakan waktu lama. Untuk itu, program ini sangat bermanfaat bagi kita,” tutupnya.

Penulis: Nur Kholis