Pendidikan karakter merupakan yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta didik. Peran guru dalam membantu membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.Peyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. Selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau tinggi sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan lingkungan sekolah.

Beberapa tulisan bertema Pendidikan Karakter sudah banyak diulas di beberapa media massa. Ulasan Pendidikan Karakter kebanyakan disampaikan bagi pendidikan di luar kelas atau kegiatan ekstrakurikuler. Namun disini penulis mencoba memberi sedikit tips Pendidikan Karakter yang diterapkan dalam Pembelajaran Belajar Mengajar (PBM) di dalam kelas.

Pendidikan Karakter dalam PBM dilakukan dengan cara proses intervensi. Proses intervensi dikembangkan dan dilaksanakan melalui kegiatan belajar mengajar yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dengan menerapkan kegiatan terstruktur dalam rancangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam proses pembelajaran guru sebagai pendidik yang mencerdaskan dan mendewasakan sekaligus sosok panutan. Dalam hal ini penulis mengambil penekatan pembeljaran PAKEM.

PAKEM singkatan dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Pembelajaran PAKEM didasari pada keyakinan bahwa hakekat belajar adalah proses membangun makna/pemahaman oleh pembelajar terhadap pengalaman dan informasi yang disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan yang dimiliki) dan perasaannya. Jadi siswalah yang aktif untuk mencari informasi, pengalaman maupun ketrampilan dalam rangka membangun sebuah makna dari hasil proses pembelajaran.

Pendidikan Karakter tidak lepas dari peran guru. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dll. yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai: Demonstrator, Manajer/pengelola kelas, Mediator/fasilitator dan Evaluator. Penjelasan peran guru sebagai berikut :

 

  • Guru sebagai demonstrator
    Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menetukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru ialah bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus-menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya sebagai demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis. Maksudnya ialah agar apa yang disampaikannya itu betul-betul dimiliki oleh anak didik.

 

  • Guru Sebagai Pengelola Kelas
    Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan  guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar. Mengajar berarti menyampaikan atau menularkan pengetahuan dan pandangan (Ad. Rooijakkers, 1990:1). William Burton mengemukakan bahwa mengajar diartikan upaya memberikan stimulus, bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Dalam hal ini peranan guru sangat penting dalam mengelola kelas agar terjadi PBM bias berjalan dengan baik.
    Mengajar adalah aktivitas/kegiatan yang dilakukan guru dalam kelas atau lingkungan sekolah. Dalam proses mengajar, pastilah ada tujuan yang hendak dicapai oleh guru yaitu agar siswa memahami, mengerti, dan dapat mengaplikasikan ilmu yang  mereka dapatkan. Tujuan mengajar juga diartikan sebagai cara untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku seorang siswa (Muchtar & Samsu, 2001:39).
    Dalam hal ini tentu saja guru berharap siswa mau belajar, baik dalam jam pelajaran tersebut atau sesudah materi dari guru ia terima. Menurut Sagala (2003:12), belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Proses belajar mengajar akan berlangsung dengan baik jika guru dan siswa sama-sama mengerti bahan apa yang akan dipelajari sehingga terjadi suatu interaksi yang aktif dalam PBM di kelas dan hal ini menjadi kunci kesuksesan dalam mengajar. Dengan demikian proses pembelajaran terjadi  dalam diri siswa. Pembelajaran merupakan suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan siswa turut  merespon situasi tertentu yang ia hadapi (Corey, 1986:195)
    Mengajar dengan sukses adalah jika guru dapat memberikan materi kepada siswa dengan media dan metode yang menarik, menciptakan situasi belajar yang  kondusif dalam kelas sehingga tercipta interaksi belajar aktif. Dengan begitu akan terjadi proses perubahan dalam diri siswa bukan hanya pada hasil belajar tetapi juga pada perilaku dan sikap siswa.
    Jadi, mengajar dengan sukses itu tidak hanya semata-mata memberikan pengetahuan yang bersifat kognitif saja, tetapi di dalamnya harus ada perubahan berpikir, sikap, dan kemauan  supaya siswa mau terus belajar. Timbulnya semangat belajar dalam diri siswa untuk  mencari sumber-sumber belajar lain merupakan salah satu indikasi bahwa guru sukses mengajar siswanya. Dengan demikian kesuksesan dalam mengajar adalah seberapa dalam siswa termotivasi untuk mau terus belajar sehingga mereka akan menjadi manusia-manusia pembelajar. Caranya? Sebagai guru mari kita mau membuka diri dan melihat secara jernih apa yang menjadi harapan siswa dalam diri kita

    3) Guru sebagai mediator dan fasilitator
    Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar. Dengan demikian jelaslah bahwa media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan.
    Sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar
    yang kiranya berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar-mengajar, baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah ataupun surat

 

4) Guru sebagai evaluator
Dalam dunia pendidikan, setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan akan diadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan tadi orang selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Penilaian perlu dilakukan, karena dengan penilaian guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan atau keefektifan metode mengajar.

 

Menurut Doni Koesoema (2010) pendidikan karakter didalam kelas menuntut setiap guru memiliki cara-cara bertindak sebagai berikut, pertama; bertindak sebagai pengasuh, teladan, dan pembimbing. Kedua; menciptakan sebuah komunitas moral. Ketiga; menegakkan disiplin moral melalui pelaksanaan kesepakatan yang telah ditentukan sebagai aturan main bersama. Keempat; menciptakan sebuah lingkungan kelas yang demokratis. Kelima; mengajarkan nilai-nilai melalui kurikulum dengan cara menggali isi materi pembelajaran dari mata pelajaran yang sangat kaya dengan nilai-nilai moral. Keenam; menggunakan metode pembelajaran melalui kerja sama agar siswa semakin mampu mengembangkan kemampuan mereka dalam memberikan apresiasi atas pendapat orang lain, berani memiliki pendapat sendiri, mampu dan mau bekerja sama dengan yang lain demi berhasilnya tujuan bersama. Ketujuh; membangun sebuah rasa tanggung jawab bagi pembentukan diri dalam diri siswa dengan cara memberikan penghargaan atas kesediaan para siswa untuk belajar, menyemangati kemmpuan mereka untuk dapat bekerja keras, memiliki komitmen pada keunggulan dan penghayatan nilai kerja yang dapat memengaruhi orang lain. Kedelapan; mengajak siswa agar berani memikirkan dan mengolah persoalan yang berkaitan dengan konflik moral, melalui bacaan, penelitian, penulisan esai, kliping Koran, diskusi, debat, apresiasi film, dll. Kesembilan; melatih siswa untuk belajar memecahkan konflik yang muncul secara adil dan damai tanpa kekerasan sehingga para siswa memperoleh ketrampilan moral esensial ketika harus menghadapi persoalan serupa di dalam hidup mereka. Misalnya tawuran pelajar.

Tips penulis selama mengajar di SMA N 3 Pati dalam menerapkan Pendidikan Karakter antara lain : 1) Guru secara rutin mengabsen siswa, menanyakan penyebab bagi siswa yang tidak masuk; 2) Melibatkan siswa  dalam PBM melalui perbuatan (learning to do) misalnya tanya jawab, diskusi, permainan, membuat kliping dll.; 3) Melalui media atau alat peraga dan berbagai cara untuk membangkitkan semangat termasuk lingkungan kelas; 4) Siswa didorong untuk menganalisi, evaluasi dan sintesis dari materi pelajaran yang dipelajari; 5) Siswa dibiasakan untuk memilih jawaban yang mungkin benar dan mencari jawaban yang paling benar diantara jawaban yang mungkin benar; 6) Guru menggunakan Model Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning dan Discovery Learning untuk memberi semangat belajar aktif; 5) Guru mengatur kelas secara bergantian agar tidak tumbuh rasa bosan sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan; 6) Guru menerapkan cara belajar kooperatif dan interaktif serta mencanangkan belajar kelompok; 7) Guru mendorong siswa agar menemukan cara sendiri dalam pemecahan masalah, untuk mengungkapkan gagasan dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan belajarnya; 8) Guru dan siswa bersama-sama menganggap kelas menyerupai tempat kerja dan belajar yang aktif dalam meraih prestasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Koesoema. Doni. 2010. Pendidikan Karakter. Jakarta : Grasindo

Sunarto. 2012. Icebreaker dalam Pembelajaran Aktif. Surakarta : Cakrawala Media

PENULIS : ANIK HASTIYANINGSIH, S.Pd., M.Si (Guru Mapel Ekonomi SMA N 3 Pati)