SEPUTARMURIA.com, REMBANG – Bagi warga di sepanjang pantura, tepatnya di Kabupaten Pati, Blora, Khusunya Rembang, tentunya tak asing lagi dengan jajanan bernama Dumbek. Makanan yang selalu tersaji di acara adat maupun seremonial pemerintahan ini memang sudah menjadi makanan khas Rembang.

 

Jajanan yang berbentuk lonjong dan terbuat dari tepung, gula aren yang dibungkus dengan daun lontar ini ternyata memiliki nilai filosofis yang cukup tinggi.

 

Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Rembang, Edi Winarno mengatakan, makanan Dumbek ini sudah ada sejak nenek moyang dulu yang bentuknya seperti lingga atau alat kelamin pria.

 

“Makanan tersebut mempunyai banyak filosofi dan makna yang mendalam sekali,” katanya, ketika ditemui, Jumat (4/8/2017).

Mulai dari daun lontarnya yang jadi pembungkusnya, menandakan adanya sifat tawaduk dengan Sang Kholik. Lantaran daun lontar tumbuhnya selalu menunduk,” katanya.

 

Selain itu, bentuk Dumbek juga dapat dikatakan unik. Sebab dengan lilitan kecil sampai besar. Ini diibaratkan, hidup harus berusaha dari hal kecil sampai besar.

 

“Selain itu, Dumbek juga menjadi simbol kehidupan dan kesuburan. Sebenarnya ada satu lagi makanan pasangannya yakni jadah genduk atau yang sering disebut dengan sebutan Gemblong,” ucapnya.

 

Dia melanjutkan, Gemblong tersebut bentuknya seperti yoni atau alat vital perempuan. Keduanya merupakan simbol dari kesuburan sebuah wilayah.

 

Di sisi lain, Edi berharap makanan khas Rembang ini dapat dilestarikan dan tetap ada. Sehingga, makanan ini bisa dikenal luas oleh masyaraka.

 

Selain itu, Ia juga berharap, makanan ini bisa menjadi oleh-oleh khas Rembang. Wisatawan yang berkunjung ke Rembang pun diharapkan bisa mencicipi makanan khas ini.

 

“Generasi muda semoga lebih peduli keberadaan makanan tersebut, karena ini merupakan salah satu kekayaan makanan khas Rembang. Di samping itu, filosofi yang dapat dipelajari dari keberadaan makanan tersebut juga patut diketahui,” pungkasnya.

 

Penulis: Edy Sutriyono