Seputar Muria, Pati – Produksi garam di sejumlah kawasan pesisir Kabupaten Pati anjlok karena pengaruh iklim kemarau basah yang terjadi sejak 2016 lalu. Akibat ini, sebagian besar petani enggan memproduksi garam dan membiarkan lahan tambak menganggur.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Kabupaten Pati Sujono mengatakan, di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu ini, para petani garam memang banyak yang meliburkan aktifitas harian mereka. Karena jika memaksakan diri untuk memproduksi garam, selain hasilnya kurang bagus, potensi kerugiannya juga cukup besar.

“Produksi garam itu sangat bergantung pada cuaca. Jadi, kami tidak bisa menyalahkan kondisi jika cuacanya belum normal,” bebernya ketika dihubungi, Kamis (06/04/2017).

Ia mengakui, dengan kondisi iklim yang tidak bersahabat selama satu tahun terakhir ini, target produksi garam di Kabupaten Pati memang jauh dari memuaskan. Pasalnya, dari target produksi 2016 sebesar 384 ribu ton, sampai Desember lalu hanya bisa tercapai sebanyak 16 ribu ton saja.

“Untuk tahun ini, targetnya masih sama. Namun kami masih menunggu kondisi cuaca untuk melakukan produksi garam. Karena kita tak bisa memprediksi kondisi cuaca,” kata Sujono.

Imbas dari target produksi yang tidak bisa tercapai ini, lanjut Dia, stok garam di pasaran menipis yang menyebabkan harga garam terus melonjak. Bahkan saat ini, harga garam dari produsen sudah mencapai Rp 2 ribu per kilogram dari harga normal sebesar Rp 500.

“Harga garam memang terus melonjak karena stok barangnya terus berkurang,” ungkapnya.

Maka dari itu, sambil menunggu cuaca kembali normal, pihaknya sudah mengarahkan para petani untuk mempersiapkan segala keperluan produksi. Agar ketika cuaca panas datang, para petani bisa segera melakukan pembuatan garam.

“Semoga cuaca cepat kembali normal, agar para petani bisa segera memproduksi garam,” tutupnya.(Muh)