Riza Faisal, Sekretaris Kelompok Mina Sejahtera saat menunjukkan piagam kalpataru

 

 

Seputar Muria, Kayen – Siapa yang menyangka, ternyata lahan tambak Desa Talun sebelum menjadi wisata budidaya ikan air tawar adalah lahan sawah yang sering kebanjiran dan kurang produktif. Melihat adanya peluang dalam budidaya ikan air tawar, maka dicobalah usaha tersebut. Pada tahun 1998 lahan 8 Ha diubah menjadi tambak untuk budidaya ikan bandeng. “Awalnya banyak yang meragukan dan ada juga yang mencemooh, tetapi karena dilihat berhasil akhirnya banyak yang meniru,” ujar Riza Faisal sekretaris Kelompok Mina Sejahtera.

Ide budidaya berasal dari melihat potensi yang ada di daerah Lamongan. “Melihat kondisi geografis dan kondisi yang mirip dengan Lamongan, maka di uji cobalah lahan 8 Ha,”ungkapnya. Untuk memastikan proses uji coba berhasil, 3 orang ahli budidaya ikan air tawar dari Lamongan.

“Pertama sebelum uji coba orang hanya melihat lahan kurang produktif, dan setelah melihat hasilnya, banyak orang yang berminat terjun ke usaha ini,” ujarnya. Melalui usaha penataan dan penyelamatan lingkungan hidup, didapatlah penghargaan kalpataru atas nama kelompok tani Bina Usaha Mandiri.

Bermula dari 8 Ha saat ini lahan budidaya air tawar mencapai sekitar 400 Ha. Dari sisi budidaya yang awalnya hanya bandeng, tombro, nila sekarang tambah patin, bawal, dan ikan hias. “Saat ini saya coba inovasi baru untuk budidaya ikan hias koi,”ungkap pria yang sering dipanggil Adib. Menurutnya ikan hias salah satu hal untuk menarik konsumen dan harga yang cukup tinggi.

Saat kondisi stabil, produksi dapat mencapai 1,5-2 ton/ha. “Kendala saat musim kemarau, terutama dulu saat kemarau panjang, kesulitan air,” katanya. Setelah menjadi desa wisata, ternyata mampu mengangkat perekonomian para pembudidaya ikan tersebut.

“Ada ide untuk membuat menjadi desa wisata kemudian dikomunikasikan dengan dinas pariwisata dan lainnya, ternyata potensi besar,” ujarnya. Demi menarik wisatawan, berbagai event dilakukan untuk menarik para pemancing. Diakuinya, ikan di Desa Talun memiliki bobot yang sangat besar.

Diakuinya, selain budidaya potensi pembibitan di Desa Talun mulai dilirik berbagai pihak. “Kita sekarang sudah masuk Kedung Ombo, dan ekspansi di daerah Tayu untuk bibit nila,”katanya.

Setelah menjadi desa wisata Desa Talun mendapat bantuan dari pihak. “Banyak yang masuk dari pihak dinas pariwisata, dinas perikanan, dinas lingkungan hidup, DPU juga membantu pengaspalan,”pungkasnya.(Ibnu)